Membantu Anak Untuk Berbakti

Bismillahirrahmanirrahim..

bayi-tersenyum1

Suatu ketika Rasulullah Saw. berpesan kepada para sahabat, “Allah merahmati orangtua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”

“Bagaimana caranya membantu anak untuk berbakti, ya Rasul Allah?”

“Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya serta tidak pula memakinya.”

Ada empat hal yang terpenting dalam menghadapi anak-anak kita agar mereka berbakti kepada kita kelak. Ketika kita mendidik anak-anak kita untuk berbakti kepada kita, sesungguhnya kita juga sedang membukakan jalan bagi anak kita menuju surga Allah apabila kita mendidiknya karena mengharap ridha Allah. Sebaliknya, kita sedang menutup jalan kebaikan bagi anak-anak kita manakala kita mengabaikan perkara yang memudahkan anak kita berbakti.

Terimalah yang sedikit dari anak, maka setiap anak akan menjadi istimewa di mata kita. Kelebihannya yang sedikit akan menjadi istimewa di mata kita, sehingga kita menjadi bersemangat menyebut-nyebutnya, memupuknya dan mengembangkannya. Kita menghargai setiap kebaikan dan keunggulan anak, sekecil apapun, sehingga yang kecil itu menjadi besar.Anak-anak kita boleh jadi tak sehebat anak-anak tetangga kita. Tapi, sebanyak apapun kelebihan anak tak akan mampu menjadikan anak merasa berharga bla kita menntut anak lebih banyak dari yang ia sanggupi saat ini. Karenanya, terimalah yang sedikit dari anak. Insya Allah kita akan melihat betapa besar keagungan yang diberika Allah kepada kita dan anak-anak.

Maafkanlah yang menyulitkannya, maka dada kita akan terasa lebih lapang menerima mereka. Ini merupakan bekal yang sangat berharga karena acapkali bersama kehebatan yang besar, ada kesulitan yang mengawali. Seperti yang dituturkan oleh Rasulullah Saw, “Al ‘Uramah akan menambah kecerdasannya di masa dewasa.” Al ‘Uramah menunjukkan kondisi anak yang sangat aktif bahkan mendekati agresif, penuh gerak, selalu ingin mencoba; dan sebagai imbasnya rumah kita barangkali tak pernah bisa tampak indah dan menyenangkan lisan untuk membicarakannya. Sebentar kita bersihkan, sesaat berikutnya sudah seperti rumah tak terurus. Sebentar kita merapikannya, tak lama kemudian sudah berantakan dan penuh coretan crayon, spidol atau apa pun saja. Kalau hati tak cukup jernih, suara kita akan segera meninggi. Mata pun memelototi anak sehingga kreativitas dan inovasinya bisa mati.

Jangan membebani anak, maka kita akan melihat perkembangan anak-anak kita yang menakjubkan. Sehebat apapun anak kita, kalau terlalu banyak menanggung beban ambisi kita, akan membuat potensi mereka kerdil dan tak mampu berkembang dengan baik. Sebaik apapun anak kita, lama-lama akan berontak apabila terlalu banyak kita bebani. Sesungguhnya, dengan memberi beban prestasi kita akan sulit menghargai prestasinya setulus hati. Setiap kali ia melakukan kebaikan atau keberhasilan, kita masih belum berlapang dada menerimanya, “Ya, ini memang bagus. Tapi Ibu ingin kamu lebih bagus.” Ini menjadikan anak merasa tidak memiliki kompetensi, citra dirinya kurang baik dan penerimaan dirinya tidak bisa penuh. Sungguh berbeda antara membebani dan menyemangati.

Pada akhirnya, Rasulullah Saw berpesan agar kita tidak memaki anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan caci maki, kata Dorothy Law Nolte, akan belajar rendah diri. Sedangkan anak yang dibesarkan dengan hinaan, akan belajar menyesali diri. Ia menyesali diri bukan karena melakukan kesalahan, melainkan karena ia tidak memiliki penerimaan diri yang baik. Anak-anak yang dibesarkan dengan caci maki juga akan belajar mengobarkan permusuhan di dadanya, sehingga ia sulit menumbuhkan persahabatan yang hangat dan penghormatan yang tulus. Tidak terkecuali terhadap kedua orangtuanya.

Astaghfirullaha wa atubu ialaih. Ashlihlana ya Rabbana. Semoga kita memiliki kekuatan hati untuk mampu mengamalkan pesan-pesan Rasulullah ini. Karena ternyata selama ini, letak masalahnya bukan pada tangan anak-anak kita yang tak henti bergerak mencoret dinding dan membuat berantakan seisi rumah, bukan pada suara mereka yang tak henti berteriak. Tapi masalahanya ternyata di hati kita. Betapa keruh hati kita dan betapa ilmu yang mulia ini tak banyak memberi arti jika tanpa kekuatan hati. Maafkanlah kami anak-anak tersayang…

*Disadur dari Saat Berharga Untuk Anak Kita, Ustadz Muhammad Faudzil Adhim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s